Pemerintah Kota Surabaya melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) mulai menyiapkan langkah implementasi hasil kajian Food Loss and Waste (FLW) yang telah disusun Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kajian tersebut akan diwujudkan dalam bentuk demonstration plot (demplot) sebagai model pengelolaan food loss dan food waste yang melibatkan kolaborasi lintas perangkat daerah, akademisi, organisasi nonpemerintah (NGO), hingga pelaku usaha.
Pembahasan tindak lanjut dilakukan melalui forum pemaparan hasil kajian FLW yang sekaligus menjadi wadah penyamaan persepsi antarperangkat daerah. Dalam implementasinya, setiap instansi memiliki peran sesuai tahapan penanganan food loss dan food waste, mulai dari pencegahan, redistribusi pangan, pemanfaatan sebagai pakan ternak, pengolahan menjadi kompos, hingga pemulihan energi.
Pada tahap pencegahan, Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan (Dinkopumdag) akan menyiapkan fasilitas cold chain atau cold storage di pasar yang menjadi lokasi demplot. Sementara itu, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) akan mendata pelaku urban farming beserta komoditasnya sekaligus memberikan edukasi kepada pelaku budidaya, distributor, dan ritel untuk meminimalkan potensi food loss. Di sisi lain, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) akan menyusun skema apresiasi sebagai insentif bagi pelaku pencegahan food waste, sedangkan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) akan mendukung melalui kampanye digital kepada masyarakat.
Pada tahap redistribusi pangan, Dinas Sosial akan menyiapkan data penerima manfaat, sedangkan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) akan menginisiasi kerja sama dengan sektor HORECA, food bank, NGO, dan komunitas. Upaya tersebut diperkuat dengan penyusunan regulasi donasi surplus makanan oleh Bagian Hukum serta pengembangan platform digital oleh Diskominfo untuk mendokumentasikan rantai redistribusi pangan.
Pemanfaatan food waste juga diarahkan pada sektor peternakan dan biokonversi. DKPP akan menghubungkan pelaku usaha penghasil food loss dan food waste dengan kelompok pemanfaat sebagai pakan ternak, sementara DLH akan memperluas edukasi pemanfaatan sisa makanan sebagai media budidaya maggot. Selain itu, DLH juga akan memperkuat implementasi pengolahan food waste menjadi kompos di tingkat rumah tangga maupun kelompok usaha.
Tidak berhenti pada pengelolaan sampah organik, hasil kajian FLW juga diarahkan untuk mendukung pemulihan energi melalui pengembangan biogas. Sejumlah alternatif lokasi, seperti pasar dan Sentra Wisata Kuliner (SWK), tengah disiapkan sebagai kawasan percontohan. BRIDA akan mengoordinasikan pengembangan kawasan tersebut sekaligus menggandeng perguruan tinggi di Surabaya yang memiliki kepakaran dalam bidang pengolahan limbah dan energi terbarukan.
Melalui implementasi hasil kajian ini, BRIDA Surabaya berharap pengelolaan food loss dan food waste tidak hanya mampu mengurangi timbulan sampah organik, tetapi juga menciptakan nilai tambah melalui redistribusi pangan, pemanfaatan kembali sumber daya, serta pengembangan energi ramah lingkungan yang mendukung pembangunan Kota Surabaya secara berkelanjutan.