Program kolaboratif BRIDA untuk menghubungkan potensi akademik perguruan tinggi dengan kebutuhan kampung secara langsung melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.
Fokus Kolaborasi
KKN, magang, tugas mata kuliah, studio, dan laboratorium berbasis kebutuhan kampung.
Tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi, serta riset pusat atau departemen.
Pendampingan, hilirisasi inovasi, dan penerapan teknologi tepat guna.
Pendampingan diarahkan agar solusi akademik dapat diterapkan secara nyata, terukur, dan berkelanjutan di tingkat kampung.
Form isian digunakan untuk membaca kondisi nyata wilayah, baik dari sisi permasalahan maupun potensi yang dapat dikembangkan.
Hasil riset, rekomendasi, produk inovasi, dan Teknologi Tepat Guna dari PTN/PTS diterapkan sesuai konteks wilayah.
BRIDA berperan sebagai hub antara PTN/PTS, perangkat daerah, ASN pendamping, kelurahan, RW/RT, KSH, karang taruna, warga, dan mitra CSR.
Pendampingan diarahkan untuk menjawab permasalahan yang kompleks serta mengembangkan potensi kampung menjadi inovasi yang berdampak bagi masyarakat.
Hasil atau rekomendasi riset digunakan untuk mengatasi masalah yang terjadi di wilayah, terutama masalah yang kompleks atau belum dapat diidentifikasi dengan baik.
Perguruan tinggi dapat memanfaatkan riset akademik yang sudah ada agar solusi yang ditawarkan tetap berbasis data, metode, dan analisis yang memadai.
Potensi yang telah dimiliki warga atau wilayah kampung dikembangkan menjadi inovasi yang sesuai dengan kebutuhan lokal.
PTN/PTS dapat menerapkan produk, karya, atau Teknologi Tepat Guna yang telah dikembangkan untuk mendukung penyelesaian masalah serta penguatan potensi kampung.
Identifikasi dilakukan melalui form isian untuk menggambarkan kondisi nyata di wilayah. Data tersebut menjadi dasar perencanaan program, pengambilan kebijakan, dan penentuan bentuk pendampingan yang paling tepat.
Menemukan masalah yang berdampak negatif terhadap masyarakat dan membutuhkan penanganan.
Menginventarisasi potensi wilayah yang dapat dikembangkan dan memberi dampak positif bagi masyarakat.
Menjadi pertimbangan dalam penentuan prioritas penanganan dan pengembangan wilayah.
Menyediakan data awal berbasis kondisi riil dan faktual untuk analisis lanjutan.
Alur pendampingan Kampung Pancasila dirancang sebagai proses kolaboratif yang menghubungkan kebutuhan warga, potensi akademik, riset, inovasi, perangkat daerah, dan aktor lokal untuk menghasilkan praktik baik yang berdampak langsung bagi kampung.
Tahap awal dilakukan untuk membaca kondisi kampung secara utuh melalui masalah, potensi, kebutuhan, visi warga, tokoh masyarakat, dan kearifan lokal.
Identifikasi masalah kampung.
Identifikasi potensi lokal.
Visi, cita-cita warga, dan kearifan lokal.
BRIDA berperan sebagai penghubung antara kebutuhan kampung dengan sumber daya perguruan tinggi, peneliti, inovator, CSR, perangkat daerah, dan aktor lokal.
Menghubungkan PTN/PTS, periset, inovator, perangkat daerah, dan masyarakat.
Hasil atau rekomendasi riset diterapkan sesuai konteks wilayah.
Proses inovasi diarahkan menjadi produk inovasi yang dapat dimanfaatkan warga.
Output pendampingan ditunjukkan melalui solusi kontekstual, pemanfaatan hasil riset, produk inovasi, dan munculnya praktik baik yang dapat direplikasi.
Fokus Output
Outcome diarahkan pada penguatan kampung melalui empat pilar utama yang menjadi dasar keberlanjutan pendampingan.
BRIDA menjadi simpul penghubung antara kebutuhan kampung, potensi perguruan tinggi, perangkat daerah, mitra CSR, serta aktor masyarakat agar pendampingan berjalan terarah.
Menyediakan dukungan pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, riset terapan, dan inovasi.
Menghasilkan rekomendasi, prototipe, model pendampingan, dan produk inovasi yang dapat dihilirisasi.
Mendukung pengampuan, sinkronisasi program, pendampingan teknis, dan pelaksanaan di wilayah.
Melibatkan LPMK, RW/RT, KSH, karang taruna, tokoh masyarakat, warga, dan komunitas lokal.
Alur ini memastikan bahwa pendampingan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi bergerak dari pemetaan masalah, kolaborasi riset dan inovasi, implementasi solusi, hingga penguatan Kampung Pancasila berbasis ekonomi, lingkungan, sosial budaya, dan kemasyarakatan.
Perguruan tinggi dapat mengambil peran melalui kegiatan akademik yang terintegrasi dengan kebutuhan wilayah Kampung Pancasila.
Kuliah Kerja Nyata, magang, termasuk magang riset atau kerja, serta tugas mata kuliah, studio, dan laboratorium.
Tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi, dan penelitian oleh pusat riset, departemen, atau unit akademik lain.
Kuliah Kerja Nyata, pendampingan, penerapan solusi, serta kegiatan penguatan masyarakat lainnya.
Tahapan pendampingan dimulai dari identifikasi masalah dan potensi, analisis data, koordinasi, penyusunan rencana, hingga implementasi lapangan.
Entry permasalahan dan potensi wilayah oleh aparat kewilayahan, ASN pendamping, warga, serta PTN/PTS pendamping.
PTN/PTS pendamping menganalisis tabel rekapitulasi masalah dan potensi pada aplikasi BRIDA, dengan kemungkinan melibatkan partisipasi warga.
Kelurahan bersama koordinator kelurahan dari pihak ASN dan PTN/PTS pendamping berinteraksi melalui aplikasi.
Rencana pendampingan disusun berdasarkan data dan fakta secara kolaboratif oleh kelurahan, ASN, dan PTN/PTS pendamping.
Koordinator kelurahan dari pihak ASN dan PTN/PTS pendamping terjun ke lapangan dan memasukkan kemajuan progres ke aplikasi untuk membangun rekam jejak.
Hasil entry dari aparat kewilayahan, warga, dan PTN/PTS pendamping saling terhubung agar dapat dilihat dan dimanfaatkan oleh pemangku kepentingan dalam proses pendampingan Kampung Pancasila.
Viewer
Data hasil entry digunakan sebagai dasar analisis, koordinasi, dan evaluasi pendampingan.
Menjadi acuan bagi PTN/PTS pendamping dalam mengumpulkan hasil riset terdahulu yang berkaitan dengan permasalahan atau potensi wilayah yang masih relevan.
Menjadi acuan bagi PTN/PTS pendamping dalam mempersiapkan Teknologi Tepat Guna atau produk inovasi yang layak diterapkan.
Menjadi dasar analisis oleh PTN/PTS bersama aparat kewilayahan, warga, dan BRIDA untuk menentukan kegiatan serta bentuk pendampingan yang tepat.
Data rekam jejak kontribusi PTN/PTS menjadi informasi kegiatan yang telah atau sedang dijalankan sehingga dapat mendorong kolaborasi antarkampus.
Seluruh pemangku kepentingan dapat mulai berkoordinasi dengan memanfaatkan data nama dan nomor HP PIC kelurahan yang tersedia.
Sistem informasi digunakan untuk memantau titik permasalahan, mengatur tampilan wilayah, dan mengakses rekapitulasi potensi serta permasalahan pada wilayah ampuan.
Mengatur batas RW dan memfilter jenis permasalahan kota.
Melihat akumulasi potensi dan permasalahan wilayah ampuan.
Pin ungu/oranye menandai masalah aktif yang memerlukan intervensi akademik.
Titik Aktif
Masalah perkotaan aktif membutuhkan intervensi akademik.
Berikut contoh format informasi wilayah yang ditampilkan pada sistem informasi untuk mendukung pemahaman kondisi lapangan.
Kecamatan Asemrowo • Data permasalahan wilayah
Pendampingan Kampung Pancasila membuka ruang bagi perguruan tinggi, pemerintah, warga, dan mitra untuk menyusun solusi berbasis data, riset, inovasi, dan kebutuhan nyata masyarakat.