Surabaya, 2 November 2026 – Pemerintah Kota Surabaya melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) berkolaborasi dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) serta periset Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan riset pemanfaatan nanochitosan pada tanaman cabai. Inovasi ini dilakukan untuk meningkatkan produktivitas dan ketahanan tanaman sekaligus mendukung ketersediaan pasokan cabai menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Riset yang dilaksanakan di kawasan Jambangan tersebut menjadi salah satu bentuk pemanfaatan keahlian perguruan tinggi untuk menjawab persoalan nyata di Kota Surabaya, khususnya di bidang ketahanan pangan.
Kepala BRIDA Kota Surabaya Dr.Agus Imam Sonhaji menjelaskan, Pemerintah Kota Surabaya berupaya mengoptimalkan keahlian dari berbagai perguruan tinggi di Surabaya untuk mengembangkan riset dan inovasi yang dapat memberikan solusi langsung terhadap permasalahan kota.
Dalam hal ini, BRIDA berperan sebagai orkestrator sekaligus kolaborator yang memertemukan perangkat daerah sebagai pemilik permasalahan dengan perguruan tinggi sebagai sumber keahlian dan tenaga periset.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian saat ini adalah ketidakpastian pasokan bahan pangan. Kondisi tersebut diperkirakan semakin menantang seiring potensi fenomena El Niño yang lebih panjang dan lebih panas pada tahun ini maupun tahun-tahun mendatang, sebagaimana informasi yang disampaikan BMKG.
Karena itu, pengembangan riset nanochitosan pada tanaman cabai menjadi salah satu langkah inovatif untuk mendukung produktivitas pertanian dan menjaga ketersediaan pasokan pangan di daerah.
Uji Efektivitas Nanochitosan pada Tanaman Cabai
Ketua Tim Kerja Fasilitas Riset BRIDA Kota Surabaya, Fatati Roynilta Olivia, menjelaskan bahwa nanochitosan merupakan material berbasis chitosan yang dikembangkan dalam ukuran nano. Bahan dasarnya berasal dari chitin yang dapat diperoleh dari berbagai sumber, termasuk kulit udang dan kepiting.
Material ini memiliki potensi pemanfaatan di berbagai bidang, mulai dari pangan, kesehatan, hingga kosmetik. Dalam sektor pertanian, nanochitosan diteliti karena berpotensi membantu meningkatkan ketahanan tanaman terhadap gangguan lingkungan maupun serangan penyakit.
Riset tersebut bertujuan menguji efektivitas nanochitosan terhadap pertumbuhan, ketahanan, dan kualitas tanaman cabai dengan membandingkan tanaman yang mendapatkan perlakuan nanochitosan dan tanaman tanpa perlakuan tersebut.
“Ya, kita itu ingin membuktikan benarkah cabai dengan treatment chitosan ini memiliki kualitas yang lebih baik dengan cabai yang tidak ditreatment oleh chitosan,” ujar Fatati Roynilta Olivia.
Ia menjelaskan, pemberian chitosan pada tanaman dapat dilakukan melalui beberapa metode, yakni melalui akar maupun penyemprotan langsung pada bagian atas tanaman.
“Dia bisa ditreatment dari bawah, yaitu menreatment akarnya. Dia juga bisa ditreatment dari atas menggunakan spray sehingga bisa terkena daun dan batangnya, atau mungkin pucuk-pucuk, apa kuncup-kuncup bunganya nanti,” jelasnya.
Menurut Olivia, pemanfaatan chitosan juga didasari pengalaman pendampingan terhadap petani cabai yang tanamannya mengalami serangan jamur dan terancam gagal panen. Setelah mendapatkan perlakuan chitosan, tanaman tersebut dilaporkan mampu pulih dan kembali menghasilkan buah.
Penyiapan Media Tanam dan Pengembangan Sistem Pengairan
Pelaksanaan riset di kawasan Jambangan didukung dengan penyiapan media tanam dan pengembangan sistem pengairan. Saat ini, proses pengkondisian media tanam masih berlangsung sebelum penanaman bibit.
Sementara itu, tanaman cabai yang telah tumbuh di kawasan tersebut menunjukkan perkembangan positif dengan kondisi yang relatif stabil.
Dalam pelaksanaannya, budidaya cabai menggunakan media polybag, bukan langsung ditanam di tanah. Metode tersebut dipilih karena kondisi tanah di lokasi belum sepenuhnya siap digunakan sebagai media tanam.
Area penelitian juga dilengkapi instalasi pipa untuk mendukung pemberian nanochitosan melalui akar dan penyemprotan pada bagian atas tanaman. Selain itu, dipasang paranet untuk mengurangi paparan sinar matahari berlebih sekaligus melindungi tanaman dari guyuran hujan secara langsung.
Lahan yang digunakan merupakan aset Pemerintah Kota Surabaya di kawasan Jambangan yang dimanfaatkan oleh DKPP. Dengan demikian, pelaksanaan riset tidak memerlukan biaya sewa lahan dan tetap berada dalam pemantauan DKPP.
Pelaksanaan riset ini menjadi bentuk kolaborasi lintas sektor antara BRIDA, DKPP, dan ITS. DKPP mendukung dari sisi sektor pertanian dan pemanfaatan lahan, sedangkan periset ITS turut memberikan dukungan keilmuan dan pengembangan teknologi dalam pengujian nanochitosan.
Dikembangkan dengan Dukungan Teknologi IoT
Selain menguji pemanfaatan nanochitosan, riset ini juga direncanakan terintegrasi dengan teknologi Internet of Things (IoT).
Teknologi tersebut diharapkan dapat mendukung sistem pengairan serta pemberian perlakuan pada tanaman secara lebih terukur. Instalasi perangkat IoT dijadwalkan mulai dilakukan pada pekan berikutnya.
BU Oliv sapaan akrabnya menjelaskan bahwa sistem IoT tersebut belum dapat diuji karena proses instalasinya masih dalam tahap persiapan.
“Nah, apakah nanti pemberian chitosan menggunakan pipa-pipa dan spray ini didukung oleh IoT? Ya, tapi untuk saat ini belum. Senin besok, Senin minggu depan, itu mulai ada instalasinya. Jadi kalau mau membuktikan IoT-nya ini jalan nggak sih? Ya tunggu instalasinya selesai,” ungkapnya.
Kolaborasi untuk Tingkatkan Produktivitas Cabai Jelang Nataru
Kepala DKPP Kota Surabaya, Nanik Sukristina menyampaikan bahwa kolaborasi antara DKPP, BRIDA, dan ITS dalam pengembangan tanaman cabai ini diarahkan untuk meningkatkan produktivitas cabai dalam menghadapi periode Natal dan Tahun Baru.
Menurutnya, peningkatan produktivitas menjadi salah satu upaya penting untuk menjaga ketersediaan pasokan cabai di tengah potensi peningkatan kebutuhan masyarakat saat Nataru.
Kolaborasi tersebut juga diarahkan untuk mendukung pengendalian inflasi daerah, mengingat cabai merupakan salah satu komoditas pangan yang harganya relatif mudah mengalami gejolak.
Sementara itu, Fatati Roynilta Olivia menjelaskan bahwa target panen dari pengembangan cabai di Jambangan direncanakan pada Desember. Hasil produksi dari lahan riset tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap ketersediaan pasokan cabai di Surabaya.
“Desember itu biasanya terjadi inflasi. Inflasi dipicu oleh barang-barang yang bersifat volatile. Volatile itu gampang goyang naik turun. Barang-barang yang volatilitasnya tinggi itu salah satunya adalah cabai,” jelas Fatati.
Ia menambahkan, meskipun hasil produksi dari lahan riset belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat Surabaya, kontribusi panen tersebut tetap diharapkan memberikan manfaat bagi pasokan daerah.
“Jadi agar nanti di Nataru itu kita punya upaya untuk bisa menekan, berusaha menekan inflasi, kita ingin provide, menyediakan cabai yang ketika dipanen jumlahnya meskipun tidak bisa dikonsumsi oleh banyak, istilahnya semua warga, tapi kita bisa memproduksi cabai panen hasil cabai chitosan itu sekian ton itu sudah sangat bagus,” tuturnya.
Melalui kolaborasi BRIDA, DKPP, dan ITS, riset nanochitosan ini diharapkan tidak hanya menghasilkan pengembangan teknologi pertanian, tetapi juga menjadi contoh pemanfaatan keahlian perguruan tinggi untuk menjawab persoalan nyata perkotaan, khususnya dalam meningkatkan produktivitas pertanian, memerkuat ketahanan pangan, dan mendukung pengendalian inflasi di Kota Surabaya.(Adm brd)