Semua Berita
riset 31 Oktober 2026 9 views

Hujan Semalaman, Udara Pagi Justru Memburuk?

Hujan Semalaman, Udara Pagi Justru Memburuk?

Surabaya, 31 Oktober 2026 — Hujan malam hari belum tentu membuat udara keesokan paginya lebih bersih. Kondisi ini terlihat dalam pengamatan di kawasan ITS Sukolilo pada 27–28 Oktober 2026.

Pengamatan kualitas udara di ITS Sukolilo menunjukkan pentingnya memahami kondisi atmosfer dalam pengendalian polusi perkotaan. Hujan malam hari belum tentu diikuti udara bersih keesokan paginya.

Muhamad Jaelani dari Laboratorium Geospasial, Departemen Teknik Geomatika ITS, memaparkan analisis tersebut melalui laman pribadinya pada 28 Oktober 2026. Analisis menggunakan data stasiun kualitas udara Geomatika ITS dan stasiun cuaca Kampus ITS Sukolilo, serta didukung data radiasi matahari Stasiun Juanda.

Pada 27 Oktober 2026 pukul 20.00–23.00, hujan sebesar 50,5 milimeter menurunkan konsentrasi PM2.5 dari 89 menjadi 62 mikrogram per meter kubik. Namun, konsentrasinya mencapai 131 pada pukul 07.00 keesokan harinya.

“Hujan bisa menurunkan konsentrasi polutan, saat hujan itu terjadi saja,” tulis Jaelani.

Ia menjelaskan, angin lemah dan atmosfer stabil menghambat pencampuran udara. Setelah pemanasan matahari meningkat, konsentrasi PM2.5 turun menjadi 86 pada pukul 08.00.

Dari 86 hari pengamatan, sebanyak 73 persen hari menunjukkan peralihan pencampuran atmosfer pada pukul 07.00–09.00. Jaelani juga menyebut kesesuaian pola tersebut dengan studi periode 2020–2024 di sekitar TPA Benowo.

Menurutnya, pengelola kota perlu memperhatikan emisi sepanjang malam karena polutan dapat terakumulasi sebelum aktivitas pagi dimulai.

Temuan ini membuka ruang pemanfaatan data lingkungan untuk mendukung kebijakan pengendalian polusi. (adm brd)Sumber: lmj.my.id, 28 Oktober 2026.